Kabut dingin menebal di antara pepohonan, menyelimuti suasana dengan aura suram. Lynx berdiri tegak, matanya menatap lurus pada pria di hadapannya tanpa sekali pun berkedip. Dari baju tempurnya, Mata Merah tampak berkilau, mengikuti denyut emosinya.

“Tubuh pemimpin mereka… jelas telah dirasuki jiwa yang luar biasa kuat. Aura ini… mengapa terasa sangat tidak asing ? Siapa sebenarnya dia? Apakah aku pernah bertemu dengannya di masa lalu?” bisiknya dalam hati dengan rasa penasaran.

Tatapan pria dihadapan Lynx begitu tajam, menusuk bagaikan pedang yang mengukur kekuatan Lynx dari ujung kaki hingga rambut di kepalanya.

Lynx menghela napas pelan, kemudian mendengus sambil melangkah maju. Suaranya bergemuruh, bergetar hingga menyebar ke seluruh penjuru hutan. “Sungguh menarik… ada yang masih mampu menguasai teknik jiwa di zaman ini. Aku adalah Plasura, penguasa wilayah ini.”

Dengan gerakan tenang namun penuh wibawa, Lynx mengangkat tangan kirinya dan menunjuk tepat ke wajah pria itu. “Sekarang enyahlah. Bawa seluruh anak buahmu, pergi dari sini sebelum aku sendiri yang mengubur kalian!”

Dari belakang, suara berbisik-bisik terdengar.

“Ketua Monrest sudah ada di sini, dan dia masih berani bersikap sombong?”

“Ketua pasti bisa menghancurkan iblis itu seperti sebelumnya.”

Nada mereka bercampur antara harap dan ketakutan. Mereka sudah melihat sendiri bagaimana iblis yang lebih besar dan mengerikan dari sosok di depan mereka berhasil di musnahkan oleh ketua mereka.

Salah satu master foundation berlari mendekat, wajah yang sebelumnya pucat pasi kini terlihat berani. Dengan adanya ketua mereka hadir, maka iblis sekuat apapun tidak perlu dia khawatirkan. “Ketua Monrest… makhluk itu… menghalangi misi kami. Kami… tak sanggup menghadapinya…”

Tatapan pemimpin itu tiba-tiba mengeras, dingin seperti es yang membeku. Suaranya dalam dan menghantam hati. “Kalian semua… tidak berguna.”

Lynx merasa dingin merayap ke tulang punggungnya. Kata Monrest yang disebutkan oleh orang-orang di sekitarnya membuat jantungnya berdegup lebih cepat. "Monrest? Jadi dia masih hidup?" pikirnya dengan kening berkerut., dia menatap sosok pria didepannya. Ingatan tentang pertempuran dia saat melawan Monrest di Planet Surya menyeruak kembali. "Itu sebabnya aku merasa tidak asing dengan tekanan aura yang di keluarkannya."

Monrest tidak ingin berlama-lama, dia ingin segera menghancurkan sosok menyerupai iblis yang menghalangi anak buahnya. Tubuh Monrest bergetar, Qi Spiritual bercampur energi iblis keluar deras dari tubuhnya. Tekanan kekuatan itu membuat para Master Foundation berlutut, gemetar, bahkan hampir kehilangan kesadaran. Dengan gerakan ringan namun penuh kebencian, ia mengayunkan pedangnya. Meskipun tanpa jurus, gelombang energi pedangnya mampu menimbulkan luka parah bahkan pada Immortal tahap akhir.

"Matilah!"

DASH!!!

DUARRR!!!

Lynx mengangkat tangannya dan menangkis energi pedang yang bergerak cepat ke arahnya hingga berbelok ke samping dan menimbulkan ledakan besar. Dengan kecepatan kilat, tubuhnya bergerak ke arah Monrest.

Crack!

Tangannya menangkap pergelangan Monrest, memelintirnya ke belakang hingga terdengar bunyi sendi yang menegang. Tubuh itu ditekan ke bawah, terhenti total, seolah dibelenggu batu.

“Monrest?” Suara Lynx rendah, namun getar keterkejutannya nyata. “Aku tidak menduga kamu bisa bangkit lagi. Seharusnya kau sudah mati dimangsa naga?”

Monrest tidak menyangka kekuatan lawan dan gerakannya melampaui perhitungannya. Dia merasa malu dan marah karena di jatuhkan di hadapan para anak buahnya. Tubuhnya tidak mampu dia gerakkan. Namun sorot mata Monrest berubah drastis saat mendengar perkataan lawannya. Pupus kejutan terselip rasa curiga. “Naga?… kenapa makhluk ini tahu tentang naga?”

Sekejap kemudian, ekspresinya menegang, seperti menemukan potongan teka-teki yang hilang. "Dia… pemuda itu… " pikir Monrest. "Hanya dia yang memiliki kekuatan seperti ini."

Bibirnya bergerak perlahan, hampir berbisik, “Lynx… ini kau?”

Genggaman Lynx semakin mengeras. “Jadi benar. Ini memang kau, tua bangka. Aku seharusnya menyadarinya lebih cepat. Jika suku Monrest mampu membangkitkanmu sekali, tentu saja mereka bisa melakukannya lagi. Tapi kali ini… aku akan memastikan kau tidak pernah kembali.” Suaranya rendah, setiap kata terasa seperti gemuruh petir yang menghancurkan udara.

Lynx mengangkat tangannya, dia mengeluarkan pagoda Shenyuan dari cincin penyimpanan dan mengerahkan rantai jiwa untuk menangkap jiwa yang mengendalikan tubuh pemilik aslinya."Semua bagian jiwamu akan kutangkap, kukurung, dan aku pastikan kau tak pernah bisa mengganggu dunia ini lagi.."

Namun sebelum rantai itu sempat menjerat, Monrest tersenyum miring. Meski matanya tetap penuh kewaspadaan, bibirnya menampilkan ejekan. “Hahaha… Lynx, kekuatanmu benar-benar mengagumkan. Aku menyukainya. Tapi belum waktunya kita bertarung.”

BRAAAK!

Ledakan cahaya menyilaukan keluar dari tubuh Monrest. Lynx menutup matanya sesaat. Dalam hitungan detik, jiwa Monrest melesat, meninggalkan tubuh yang kini hancur.

“Lynx, aku akan menghancurkanmu. Aku akan membalas semua perbuatanmu, dan aku akan membuatmu menderita sebelum ajal menjemputmu.”

Suaranya menggema dari segala arah. Para Master Foundation menjerit, tubuh mereka terguncang hebat.

Monrest mengangkat tangannya, mengaktifkan segel yang tertanam di tubuh para pengikutnya. “Rantai Jiwa!”

“ARRGGGHHHHH!!!”

Udara bergetar. Rantai-rantai tak kasat mata bermunculan dari kehampaan, berkilau gelap seperti ular cahaya hitam. Mereka melilit tubuh para Master Foundation satu per satu.

“A-apa ini?! Lepaskan—AARRGGHHH!!!”

Jeritan memilukan menggema di dalam hutan. Tubuh mereka tersentak, wajah memucat, mata melebar, jiwa mereka terhisap ke dalam rantai.

“MONREST! BERHENTI!!!” teriak Lynx, tapi segalanya sudah terlambat. Monrest lenyap, meninggalkan kekacauan.

Satu per satu tubuh itu jatuh ke tanah, tak bernyawa. Jiwa mereka benar-benar tersedot, hanya menyisakan bangkai kaku.

Lynx berdiri di tengah medan yang kini hening, matanya menyapu pemandangan mengerikan. Rahangnya mengeras, napasnya berat. Ia menatap langit, ke arah jiwa Monrest yang sudah menghilang, hanya meninggalkan hawa dingin yang menggigit tulang.

"Monrest, kamu tetap kejam seperti biasanya. Aku tidak akan pernah melepaskanmu." Batin Lynx, tangannya mengepal mengingat kekejaman Monrest terhadap pengikutnya sendiri.

Lynx menyimpan kembali pakaian tempurnya dan memandang sekitar. "Kemana perginya pria tadi. Kenapa aku merasa pria itu tidak terlihat sesederhana kelihatannya."

Lynx memejamkan matanya kembali untuk merasakan jejak orang-orang di sekitar namun tidak ada jejak yang ditemukan.

"Sepertinya mereka tadi datang dari arah sana. Apakah terjadi sesuatu disana? Aku merasa ada banyak orang di arah itu." Lynx menatap ke sebuah arah. DIa segera memutuskan pergi untuk memeriksa.

***

Di ruang utama keluarga Baihuan, Monrest tersenyum dingin.

"Lynx, aku sudah mengetahui keberadaanmu. Setelah seluruh fragmen pedang iblis ku kumpulkan, maka kekuatanku yang tersegel di pedang itu bisa kembali."

Monrest mengangkat tanganya, dari telapaknya keluar energi berbentuk api berwarna hitam pekat."Kalian semua berpikir kekuatanku karena pedang iblis. Tidak akan ada yang mengetahui, justru pedang itu menjadi kuat karena menyimpan sebagian kekuatanku. Seandainya bukan karena hukuman penguasa dunia surgawi, kekuatanku tidak akan di segel di banyak tempat."

Api hitam di tangannya semakin membesar."Lynx, kamu harus mengembalikan batu meteor itu kepadaku. Dengan kekuatan itu, aku bisa menaklukkan dunia ini meski kekuatan asliku masih tersegel. Lalu membalas dendam dan menghancurkan dunia surgawi"

Monrest mengingat kenangan ribuan tahun yang lalu, saat dia menerima hukuman dari penguasa Dunia Surgawi, seseorang di tingkat Dewa Kaisar. Kekuatan dan sebagian jiwanya di segel di sebuah tempat tersembunyi. Dan sebagian jiwanya di lemparkan ke dunia bawah tanpa kekuatan. Namun beberapa ratus tahun kemudian, melalui pengalaman dan pelatihannya, dia berhasil bertahan dengan berlatih kultivasi, dan berkat seseorang rekannya dari dunia surgawi mengirimkan senjata iblis yang selalu menemaninya, dan menyimpan sebagian kekuatannya, dia berhasil memulihkan sebagian kekuatannya.

Agar dunia ini tidak menolak keberadaannya dan membocorkan rahasianya ke dunia Surgawi, dia tetap menyimpan kekuatannya di pedang Iblis dan membuat kekacauan dimana-mana dengan tujuan menemukan pagoda Shenyuan untuk melepaskan salah satu Dewa yang di kurung untuk membantunya membalas dendam. Namun tanpa di sangka dengan cara curang, sekelompok kultivator yang di pimpin Xiao Tang, menipunya dan berhasil memisahkan dirinya dan pedang iblis hingga mereka bisa mengalahkannya.

Menjelang dia terbunuh, dengan teknik khusus, jiwanya tetap hidup dan bisa dibangkitkan kembali. Setelah kebangkitannya, dia menyamar untuk menemukan jejak pedang iblis yang di sembunyikan. Saat itulah dia merasakan artefak seperti batu meteor yang mengandung aura penguasa Dunia Surgawi, turun ke dunia tersebut dengan kekuatan sangat besar. Dan saat dia ingin memanfaatkan para kultivator yang berusaha melawan jatuhnya  benda tersebut, dia ikut terjebak ke dunia lain dan terbunuh lagi.

